Ekonomi Baik Negara Buruk
Ditulis tanggal : 03 - 11 - 2011 | 08:10:02


Di ruangan  sebuah perkantoran MH Tamrin (Kamis, 26 Oktober 2011), duduk bersama puluhan tokoh. Ada beberapa Profesor, sesepuh CSIS, mantan KSAL, mantan  PASPAMPRES, 

 

mantan jendral, redaktur senior Kompas, para pengamat, dosen, peneliti serta beberapa  wartawan dan anak muda. Penuh khusuk mendengar pemaparan Prof. Dr Didik J Rachbini, pendiri dan ekonom senior INDEF tentang ”Masalah Ekonomi Indonesia”



Sebuah  seri diskusi bulanan yang diadakan oleh Institut Peradaban, dengan Prof Salim Said, salah satu pendiri  lembaga tersebut sebagai  moderator. Soal umur mungkin boleh dibilang sudah banyak yang tak muda lagi. Rata-rata peserta mungkin sudah berumur di atas 40 tahun, namun semangat dan gelora jiwa mudanya masih cukup kental. Nampak dalam sesi tanya jawab di akhir acara tersebut. Yang, dari yang bertanya atau berbagai pemikiran di sesi itulah di ketahui ternyata peserta diskusi tersebut orang-orang penting.



Prof Didik memaparkan bagaimana pasar (perekonomian) tumbuh dengan baik, memberikan momentum yang cukup baik bagi ekonomi Indonesia untuk tumbuh. Prospek pertumbuhan ekonomi baik karena faktor eksternal ekonomi kawasan Asia, yang menyerap ekspor Indonesia (ASEAN, Cina, Jepang, Asia Timur Korea dll). Tapi, bagaimana dengan peranan negara dalam ekonomi dan kebijakan ekonomi? Inilah yang dipersoalkan dalam diskusi tersebut.



Dalam diskusi tersebut Prof Didik memaparkan bagaimana pemerintah, dalam hal ini negara dan birokrasi tak mendukung bagi perekonomian untuk bertumbuh baik. Pemerintah pusat sama boros dan korupnya dengan pemerintah daerah, dampak peningkatan APBN/APBD tidak signifikan pada kesejahteraan. Dalam skala yang lebih praktis di lapangan, untuk memulai usaha di Singapura dan Thailand cukup diproses formal 3 hari, sementara di Indonesia perlu lebih dari 60 hari (kalau tidak menyogok?) Begitulah birokrasi kita.


Sementara peranan investor dalam negeri lemah, investor asing datang karena peluang pasar yang besar dan kelas menengah dengan daya beli yang tinggi. Itulah beberapa hasil diskusi yang kemudian disimpulkan bahwa ekonomi membaik, negara buruk. Untuk lebih mempertajam diskusi, pada sesi bulan berikutnya Institut Peradaban akan secara khusus membedah tema diskusi ”Presiden SBY, problem struktural atau personal”. Kita tunggu saja info selanjutnya. (yons achmad, publicist)



KOMENTAR

Tidak Ada Komentar

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Judul :


Komentar :