Ngantor di Kuningan Tapi Tak Tahu Siapa HR Rasuna Said Ditulis tanggal : 10 - 11 - 2011 | 11:21:43 
Bagi sebagian warga Jakarta, Jalan HR Rasuna Said tidak asing lagi terdengar di telinga. Jalan yang membentang panjang sekira 4,9 kilometer dari Menteng, Menteng, Jakarta Pusat sampai Tendean merupakan pusat bisnis di kawasan Selatan Jakarta. Banyak didirikan perkantoran, kedutaan besar negara sahabat dan pusat perbelanjaan di sana.
Ruas jalan Rasuna Said dikenal menjadi daerah rawan kemacetan pada pagi dan sore hari. Padatnya Lalu lalang kendaraan di ruas jalan itu menjadi salah satu sumber kemacetan jalanan di ibu kota negara itu. Meski demikian tak banyak yang tahu jika nama HR Rasuna Said merupakan salah satu pahlawan.
Misalnya petugas Polsek Setiabudi, Aipda Suyana tidak yakin jika nama HR Rasuna Said merupakan seorang pahlawan. Nama Rasuna terdengar asing ditelinga pria yang bekerja lebih dari tiga tahun itu di kawasan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. “ Nggak tahu saya. Masa ah kalau itu pahlawan,” katanya kepada okezone, Kamis (10/11/2011).
Rasuna Said sebagai pahlawan memang tidak populer bagi sebagian warga Jakarta yang bekerja di sekitar jalan HR Rasuna Said. Mereka lebih mengenal nama Pangeran Diponegoro, Sudirman, atau Jenderal Ahmad Yani.
Supriyanto warga Depok yang bekerja di kawasan HR Rasuna Said itu, menganggap Rasuna merupakan tokoh Betawi yang diabadikan menjadi nama jalan. Selain itu, dia juga tidak tahu perjuangan Rasuna yang berasal dari Sumatra Barat hingga diputuskan menjadi pahlawan.
“Nggak tahu pahlawan darimana Rasuna itu. Mungkin dia tokoh Betawi,” katanya.
Supriyanto malah menganggap nama pahlawan tidak perlu dijadikan nama jalan di Jakarta. Sebab, nama pahlawan akan menjadi buruk dengan kondisi jalanan Jakarta yang dikenal semerawut.
Dia berpendapat sebaiknya untuk mengenalkan pahlawan, pemerintah membuatkan museum yang menceritakan sejarah perjuangan mereka pada masanya. Dengan adanya musium yang memberikan pengetahuan pahlawan dari berbagai daerah, generasi muda dapat dikenalkan dengan sejarah Indonesia.
“Kalau mau mengenang pahlawan bikin museum, jangan sekedar jadi nama alamat. Yang dikenal Cuma macetnya,” tandasnya.
www.okezone.com |