Mengenang Fang Lizhi, 1936-2012 Ditulis tanggal : 08 - 05 - 2012 | 19:24:07 
Ia merasa dirinya hanya orang biasa yang kebetulan berkecimpung dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, hampir semua kaum terpelajar di Cina menganggapnya sebagai seorang raksasa dan juga seorang David. Sebagai raksasa lantaran keberaniannya berseberangan dengan semua diktum yang dikeluarkan Deng Xiaoping—bapak reformasi Cina. Namun, ia juga sebagai seorang David yang berani dengan nekat menentang sang Goliath, raksasa dalam bentuk Partai Komunis Cina (PKC) yang telah menjadi penguasa tunggal di negeri itu selama tak kurang dari 63 tahun. Karena keberaniannya itu ia sering disamakan dengan pembangkang Rusia Andrei Sakharov yang berani berpendapat berseberangan dengan para pemimpin zaman Uni Soviet berjaya. Namun, Perry Link, seorang sinolog Amerika terkenal, memberinya julukan sebagai seorang Galileo yang berani menentang Kaisar Roma dengan Pantheonnya yang tak bisa dibantah. Kini ia telah tiada. Dalam usianya yang ke-76 ia meninggal secara tiba-tiba, di tempat yang jaraknya ribuan km dari tanah kelahirannya. Pagi itu, pada 6 April lalu ia sudah bersiap untuk mengajar. Namun, tiba-tiba saja ia merasa tak enak badan. Isterinya, fisikawan Li Shuxian menasihatinya untuk tinggal saja di rumah. Ia setuju dan meminta isterinya menelepon sekretaris departemen fisika di Universitas Tucson. Tapi, tiba-tiba saja badannya lunglai dan meninggal ketika duduk depan meja tulis di kamar kerja kerjanya. Berita tentang berpulangnya Fang dengan segera tersebar ke seluruh dunia, khususnya di weibo, versi Twitter dalam Bahasa Cina. Namun para penguasa Cina, khususnya yang menongkrongi internet cukup sigap. Dalam waktu kurang dari 10 menit berita tentang kematian Fang lenyap dari internat dan kata Fang Lizhi menjadi ungkapan yang tak boleh muncul di dunia maya. Fang berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pegawai pos. Namun, dalam kesederhaanaan itu ia memiliki otak cerdas. Karena kepintarannya itu setamat sekolah yang di sini setingkat dengan SMA pada awal 1950an, ia diterima di Universitas Peking (Beijing Daxue—Beida). Itu merupakan suatu prestasi istimewa mengingat tak sebarang lulusan sekolah menengah yang bisa masuk perguruan tinggi paling prestisius itu. Pada masa kuliah itulah ia berkenalan dengan seorang mahasiswi bernama Li Shuxian. Awal 1950an sampai sekitar pertengahan 1960an merupakan tahun-tahun yang bagi orang muda Cina merupakan era penuh dengan harapan setinggi langit. Masuk menjadi anggota partai merupakan langkah yang populer di kalangan kaum terpelajar, termasuk mahasiswa. Fang pun tak ketinggalan menjadi anggota PKC dan sering mengatakan kepada nona Li yang kemudian menjadi isterinya untuk “menyaksikan bagaimana aku tumbuh menjadi seorang komunis yang baik.” Namun, tak lama setelah lulus dari Beida, sebagai seorang “intelektual yang bau busuk” ia dianiaya Pengawal Merah (hongweibing) dan dipaksa tinggal di sebuah pertambangan di selatan propinsi Anhui. Di kam yang disebut sebagai “kam pendidikan kembali” itulah, ditambah dengan penderitaan yang dialaminya ia justru tertarik akan astrofisik teoritis. Sebab, katanya, itu merupakan salah satu bidang ilmu fisika yang tak memerlukan alat atau laboratorium. Tak lama setelah Mao meninggal dan Deng Xiaoping memimpin negara serta memperkenalkan reformasi dan keterbukaan, ia direhabilitasi dan kehidupan akademiknya bangkit kembali. Pada 1984 ia diangkatan sebagai Wakil Rekror Universitas Sains dan Teknologi Anhui. Namun, pada saat itulah kepercayaannya terhadap komunisme dan Maoisme sudah terlanjur luntur. Di samping mengajar teori fisika ia sering memberikan komentar mengenai ideologi dan kemasyarakatan. Dan karena sering memberikan berbagai pernyataan yang jenaka dan tepat sasaran ia populer di kalangan mahasiswa dan kaum terpeljar. Itu terjadi pada suasana ketika Cina menjelang peristiwa Tiananmen. Tak lama setelah berhasil menyingkirkan saingan-saingannya yang Maois, Deng Xiaoping pernah menyampaikan slogan “modernisasi dengan karakteristik Cina” dan “sosialisme dengan karakteristik Cina. Dalam praktek, itu disinterpretasikan sebagai modernisasi dan sosialime dengan PKC sebagai penguasa tunggal dan tak sudi berbagi keiuasaan dengan kekuatan politik lain. Komentar Fang di sela-sela kuliahnya, apakah para mahasiswa yakin akan diktuym “fisika dengan karakteristik Cina.” Banyak lagi komentar lain yang membahagiakan para mahasiswanya tapi yang membuat telingan para penguasa komunis panas. Akhirnya pada 1987 ia dipecat dari semua jabatan administrasi dan akademiknya. Para penguasa mengumpulkan semua pidato dan berbagai pernyataannya dan mencetaknya menjadi brosur serta dibagikan kepada mahasiswa di seluruh Cina. Namun, akibatnya justru menjadi bumerang bagi pemerintah Cina karena kumpulan tulisan dan pernyataannya itu telah membuatnya menjadi tokoh populer. Menjelang meletusnya rangkaian demonstrasi di Tiananmen pada musim semi 1989 ia telah menjadi ikon perjuangan demonstrasi di negeri itu menjadi pendorong semangat bagi para pejuang emokrasi. Ia tinggal bersama isterinya di pinggir kota Beijing. Namun, selama demo berlangsung ia tak pernah pergi ke Lapangan Tiananmen. Ia ingin menunjukkan bahwa para demonstran penuntut demokrasi itu bertindak independen. Tak lama setelah pembantaian Tiananmen terjadi Fang dan isterinya tercatat sebagai orang nomor satu dan nomor dua yang dicari karena dituduh sebagai “tangan hitam” di balik rangkaian demo pada April sampai Juni 1989. Atas bantuan teman-temannya ia berhasil menyingkir dan berlindung di Kedutaan Besar Amerika di Beijing. Setelah dan isterinya mendekan dan bersembunyi di ruang bawah tanah gedung kedutaan itu selama 13 bulan, akhirnya dengan koordinasi berbagai pemerintah, khususnya Jepang dan Amerika, ia diperbolehkan meninggalkan Beijing. Mula-mula ,mengajar di sebuah universitas di Inggris dan kemudian pindah ke Universitas Arizona, di Tucson, Amerika. Di perguruan tinggi itulah ia mengajar sampai akhir hayatnya 6 April lalu. Fang bukan satu-satunya “penyebal” atau pembangkang Cina. Namun, hampir semua tokoh yang berseberangan dengan PKC terdiri dari satrawan, penulis, wartawan, atau ilmuwan. Dalam hal ini Fang menduduki tempat tersendiri: ia berasal dari bidang sains dan di sinilah dia menempati posisi khusus. Ia sangat pandai menerangkan bagaimana konsep demokrasi dan hak asasi berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan eksakta. Dan untuk ini ia mengajukan lima alasan. Pertama, katanya, sains dimulai dengan keraguan. Itu berlawanan dengan ajaran Mao yang menekankan pada penanaman keyakinan. Kedua, sains menekankan kepada kebebasan untuk membuat judgement, bukannya mengekor kepada judgement yang dipaksakan oleh orang lain. Ketiga, sains itu egaliter. Artinya, pendapat atau penemuan yang muncul terlebih dahulu lebih hebat atau lebih baik serta harus lebih unggul dari pendapat atau penemuan yang muncul belakangan. Itu merupakan aturan yang harus diikuti dalam mengejar kebenaran. Kempat, demi pengembangan sains memerlukan kebebasan informasi dannia tak akan maju di bawah sistem yang membatasi akses ke informasi. Yang kelima, menurut Fang lagi, kebenaran ilmiah, seperti juga prinsip-prinsip hak asasi merupakan prinsip yang universal. Ia tak berubah walaupun nyelonong ke ranah politik. Proses pemiliran Fang dari seorang yang yakin akan komunismre sama dengan para pembangkang lain. Pada mulanya mereka sangat yakin akan kebenaran Marrxisme, Leninisme, dan Pikiran Mao malahan cenderung dogmatik. Namun ketika mereka dipaksa hidup di bawah ideologi dan malahan menjadi korban dari doktrin yang mereka sangat yakini itu, pikiran mereka terbuka, berubah dan berontak. Dan jadilah mereka penyebal. Ucapan-ucapan Fang Lizhi lebih banyak didengar orang karena posisinya sebagai seorang akademisi dalam bidang sains dan administrator universitas. Setelah ia dipecat, ia tetap saja mengeluarkan pernyataan=pernyataan yang kocak. Seorang wartawan Barat pernah menanyakan apakah ia tak gentar kalau teleponnya disadap agen pemerintah. Ia menjawab dengan stengah bergurau: “Sudah lama saya ingin agar pendapat dan ucapan saya didengar oleh penguasa. Barangkali dengan cara inilah kini penbdapat saya bisa didengar.” Di negeri tempat ia menyingkir pun ia sempat membikin pemerintah berang. Ia menuduh pemerintah Amerika membiarkan para penguasa komunis di Cina untuk melakukan tindakan di luar peri kemanusiaan terhadap orang-orang yang tak sejalan dengan pendapat resmi. Presiden Bush Sr pernah merasa tersinggung dengan ucapan Fang itu. Kini ia telah tiada dan penguasa Cina menganggapnya sebagai orang yang tak perlu didengar dan lebih baik dicuekin saja. Namun, ia pasti akan dikenang terus oleh mereka yang memperjuangkan demokrasi di Cina, terutama generasi pendemo di Tiananmen 1989. (Dimuat Koran Jakarta, Saptu, 5 Mei 2012) A. Dahana: Guru Besar Sinologi, Universitas Indonesia; dan Anggota Dewan Pengurus Institut Peradaban, Jakarta. |